Berlibur Ke Rumah Nenek
Karya
: Adjie Valeria Christiasih
Hari
ini Tika beserta Mama dan Papanya pergi berlibur ke rumah Orang Tua dari Mama
Tika. Perjalanan yang cukup jauh karena rumah Kakek dan Nenek Tika yang terletak
di pedalaman Kalimantan Timur. Walaupun sebenarnya sekarang bisa menggunakan
pesawat dan kapal namun mereka lebih memilih menggunakan mobil sebagai sarana
mereka agar sampai ke tempat tujuan.
“
Ma, Pa bentar lagi kita udah sampai ya ? “ tanya Tika, Mamanya langsung tersenyum
dan Papanya menjawab “ masih 3 jam lagi sayang “
“
Kenapa lama sekali, padahal aku sangat penasaran “ gerutu Tika dan kemudian
memasang muka cemberut, Papa dan Mamanya hanya tertawa melihat tingkah laku
Tika.
“
Loh yang ngusulin tahun ini kita luburan ke rumah Kakek Nenek siapa ? “ Sambung
Papanya, dan Tika pun hanya terdiam dan menggerutu sendiri. Waktu terus
berjalan tak terasa sudah mulai mendekati tempat yang di tuju.
Selama perjalanan beberapa jembatan
yang lumayan besar dan panjang telah mereka telusuri namun Tika sedikit
penasaran tentang air sungai itu. “
Mama, mengapa sungai itu sangat keruh ma ? “ tanya Tika pada Mamanya, dengan
sejenak Mamanya menjadi teringat hal yang telah lalu dan Mamanya pun menjawab “
Itu akibat ulah manusia sendiri Tika “.
Namun Tika masih tetap tidak mengerti dan tidak puas dengan jawaban Mamanya ia
pun tetap bertanya kembali “ Bukannya Mama pernah cerita kalau dulu saat Mama
masih kecil sering berenang di sungai ? “. Dengan penuh kesabaran Mamanya
tersenyum “ Oke Mama akan cerita saat Mama masih kecil ya Tika, ada hubungannya
dengan sungai itu dan kamu harus mendengar cerita Mama ya sayang “
“
Iya Ma.. Tika dengerin “ jawab Tika dan mulai menyimak cerita Mamanya. Mamanya
pun memulai cerita masa kecilnya “ Pada zaman dahulu … “
“
Sabar Ma, Tika mau minum dulu “ sela Tika langsung menyambar minum yang ada di
mobil mereka, Mamanya kembali mendengus melihat tingkah Tika“ Iya minum dulu
deh Tika “. Mamanya mulai bercerita “ Saat itu Mama masih duduk di bangku
kelas 1 SD, suasana kampung yang masih tenang dan alam pun memberi kesejukan
bagi siapapun yang mengunjungi desa kami. Embun pagi yang menyambut saat Mama
berangkat ke sekolah dan terik matahari di siang hari yang cukup hangat saat
Mama pulang sekolah. Saat sore hari pun tiba Mama bersama teman-teman masa
kecil Mama pergi ke sungai mencari ikan atau hanya sekedar berenang di sungai.
Ya saat itu sungai di desa kami masih sangat jernih sehingga masih layak untuk
kami yang ingin berenang maupun mencuci baju “
“ Seru banget dong Ma “ Cerca Tika yang
langsung memotong cerita Mamanya, Mamanya mendengus kembali “ Jangan di potong
dong ceritanya, Mama jadi males cerita kalo gitu Tik “
“ Iya Ma, Maafin Tika, lanjuti lagi
ceritanya dong Ma “ seru Tika, dan langsung berusaha memeluk Mamanya dari
belakang, Mamanya hanya tertawa dan mulai melanjutkan ceritanya kembali “ Waktu
itu memang sungguh masa kecil yang membahagia kan waktu itu, walaupun hanya
berenang di anak sungai yang lebarnya 7 meter dan dalamnya 1 meter karena saat itu di
kampung kami tidak ada yang memiliki kolam renang yang di sewakan seperti
sekarang. Saat itu juga jarang sekali anak-anak yang masih duduk di bangku SD
bisa menggunakan sepeda motor, hampir semuanya hanya menggunakan sepeda roda
dua dan suasana saat itu benar-benar mendamaikan hati siapapun. Seiring
berjalannya waktu dan sedikit demi sedikit pula para penguasa mulai berdatangan
ke kampung kami. Mereka memiliki strategi yang cukup misterius sehingga
masyarakat yang memandang mereka sebagai tempat pencetak uang untuk memenuhi
kehidupan mereka sehari-hari. Mereka mulai membeli lahan-lahan warga kampung
itu, mulai dari harga 15 juta hingga Milyaran Rupiah. Siapa yang tidak terguir
dengan nominal uang itu Tika ? Mama pun juga mau. Namun sayang mengapa warga di
kampung saat itu juga tidak sadar,
dengan apa yang mereka lakukan. Dan para penguasa itu mulai membuka tambang
batu bara dari tanah warga yang sudah mereka beli dan pada akhirnya
perlahan-lahan limbah dari tambang tersebut di buang ke sungai. Sungai kami
yang dulu tempat kami berenang dan sebagainya itu telah kotor, keruh, dan
bahkan menimbulkan bau yang luar biasa. Tidak hanya karena limbah tambang,
namun masyarakat sering sekali membuang limbah dari rumah masing-masing ke
sungai. Lihat saja tidak hanya keruh namun sungai itu sekarang di hiasi
sampah-sampah masyarakat “
“ Oh jadi Mama dulu waktu kecil sering
berenang di sungai yang tadi kita lewati itu ya Ma ? “ tanya Tika kembali yang
semakin penasaran dengan cerita Mamanya, mamanya pun melanjutkan kembali
ceritanya “ iya Tika, semua sekarang hanya jadi cerita belaka. Bahkan Adik-adik
Mama pun tidak pernah menikmati betapa segarnya air sungai tersebut. Sekarang
kita hanya bisa memandang sungai itu dengan tatapan yang sangat menjijikan. Dan
para penguasa itu ? hanya meninggalkan limbah, merusak jalan raya, dan
meninggalkan debu untuk desa kami, dan ketika sudah mendapatkan keuntungan yang luar biasa dari tambang batu bara
itu mereka pergi dari kampung kami. masyarakat pun tetap dan tidak sadar dan
sering membuang sampah ke sungai tadi padahal kan sudah ada TPA tidak seperti
dulu sampah-sampah warga di bakar masing-masing. “
“ Wah kurang ajar banget penguasa itu
ya Ma “ Sela Tika yang mulai sedikit emosi setelah mendengar cerita Mamanya,
Mamanya langsung menjawab “ Bukan begitu sayang, mereka juga menciptakan
lapangan perkerjaan “. Namun Tika tetap berteguh dan terus menyela Mamanya “ tapi
Ma, akibatnya juga luar biasa Ma “ .
Setelah mendengar tanggapan Tika, Mamanya kembali tersenyum dan kemabli
bertanya “ Iya Mama tau mau denger lagi ga Tika ? “ .
“ Iya Ma, lagi-lagi dong ceritanya “
ucap Tika, Mamanya pun kembali bercerita
“ Akhirnya semua sawah dan perkebunan
warga pun ludes habis menjadi milik ke para penguasa itu, demi kepuasan
sementara. Padahal desa kami terkenal sebagai penghasil beras yang sangat
banyak dan ruang penggilingan padi terbesar di negri kami ada di desa kami.
Namun bagaimana selanjutnya ? apakah batu bara akan tetap hadir sepanjang masa
? saat sumber daya alam itu habis bagaimana lagi kabar generasi muda kita ? Dan
sungguh betapa malunya kita karena para petani sudah mulai berhenti menanam
padi dan akhirnya kita mengimport beras dari negri orang. Mama sudah
membayangkan perlahan-lahan desa kami pasti akan menjadi lautan kolam bekas
tambang batu bara akibat keegoisan para penguasa itu. Dan akhirnya memang
terjadi kan ? “
“ Iya ya Ma.. kasihan Nenek sama Kakek
sudah sepi, pemandangannya juga Cuma kolam tambang batu bara “ Tanggap Tika,
Mamanya pun menasihati Tika “Nah itu dia sayang, kamu harus banyak belajar
supaya bisa mengembangkan daerah kita ya “
“ Oke Ma, tapi Papa kok tidak komentar
tentang sungai itu Pa ? “ Ucap kembali Tikadengan penuh penasaran.
“ Emangnya Papa harus ngapain Tika ? “
Tanya Papanya yang juga sibuk menyetir mobil saat itu, dan Mamanya langsung
menjawab “ Soalnya Papa kamu itu cucunya direktur tambang batu bara Tika “.
Tika hanya tertawa mendengar tanggapan dari Mamanya. Tika pun kembali bertanya
“ Emangnya benar ya Pa yang di katakan Mama ?”. Papanya mengangguk, dan
langsung menjawab “ Apapun yang terjadi dulu itu adalah masa yang telah
berlalu, sekarang tugas kita bagaimana cara menyelesaikan masalah yang ada di
sekitar kita bukan menyalahkan masalah “. Akhirnya Mama dan Tika hanya
mengangguk yang menandakan setuju dengan pendapat Papa
“ Sudah sampai “ Seru Papa Tika yang
cukup mengagetkan Mama Tika dan tika sendiri, mereka langsung tertawa dan
mengomel. “ Tau gini mendingan kita cerita dari pertama mulai jalan sampai selesai
perjalanan ya Pa, Ma “ ucap Tika. “ Udah nanti aja komentarnya Tika lihat Kakek
dan Nenek sudah menanti kita “ seru Papa Tika dan mereka kembali tertawa.
“ Kakek, Nenek !!! “ seru Tika langsung
berlari kea rah mereka dan memeluk mereka
“ Loh, Kakak kamu tidak ikut Tika ? “
Tanya Kakek
“ Kak Aldo kan sekarang kuliah di Jogja
Kek, dia liburnya Cuma sebentar jadi gak ikut kita, katanya dia minta dikirimi
durian, sanggar cempedak, sama tempoyak Kek “ Ucap Tika panjang lebar. Dan
tiba-tiba terdengar teriakan minta tolong dari arah mobil “ Tika nanti dulu
ceritanya ! bantuin Mama sama Papa mengangkat koper dari mobil “ seru Mama
sambil membawa barang bawaan mereka yang lumayan banyak pada saat itu.
“ Iya Ma “ jawab Tika langsung membantu
Papa dan Mamanya
“ Tika habis ini kamu mandi istirahat
1-2 jam setelah itu kita pergi ke jantur Inar
disana sungainya masih jernih dan segar” Kata Papa yang saat itu sedang di
teras rumah sambil menyantap jabau goreng
buatan Nenek Tika
“ Sip Pa, kalo ini Tika semangat “
Jawab Tika langsung hormat pada Papanya seperti hormat pada bendera merah
putih. Kakek,Nenek, dan Mamanya hanya tertawa melihat tingkah laku tika yang
terkadang susah di tebak.
·
Jabau = Singkong
·
Jantur = Wisata Air Terjun
Berlibur Ke Rumah Nenek
Karya
: Adjie Valeria Christiasih
Hari
ini Tika beserta Mama dan Papanya pergi berlibur ke rumah Orang Tua dari Mama
Tika. Perjalanan yang cukup jauh karena rumah Kakek dan Nenek Tika yang terletak
di pedalaman Kalimantan Timur. Walaupun sebenarnya sekarang bisa menggunakan
pesawat dan kapal namun mereka lebih memilih menggunakan mobil sebagai sarana
mereka agar sampai ke tempat tujuan.
“
Ma, Pa bentar lagi kita udah sampai ya ? “ tanya Tika, Mamanya langsung tersenyum
dan Papanya menjawab “ masih 3 jam lagi sayang “
“
Kenapa lama sekali, padahal aku sangat penasaran “ gerutu Tika dan kemudian
memasang muka cemberut, Papa dan Mamanya hanya tertawa melihat tingkah laku
Tika.
“
Loh yang ngusulin tahun ini kita luburan ke rumah Kakek Nenek siapa ? “ Sambung
Papanya, dan Tika pun hanya terdiam dan menggerutu sendiri. Waktu terus
berjalan tak terasa sudah mulai mendekati tempat yang di tuju.
Selama perjalanan beberapa jembatan
yang lumayan besar dan panjang telah mereka telusuri namun Tika sedikit
penasaran tentang air sungai itu. “
Mama, mengapa sungai itu sangat keruh ma ? “ tanya Tika pada Mamanya, dengan
sejenak Mamanya menjadi teringat hal yang telah lalu dan Mamanya pun menjawab “
Itu akibat ulah manusia sendiri Tika “.
Namun Tika masih tetap tidak mengerti dan tidak puas dengan jawaban Mamanya ia
pun tetap bertanya kembali “ Bukannya Mama pernah cerita kalau dulu saat Mama
masih kecil sering berenang di sungai ? “. Dengan penuh kesabaran Mamanya
tersenyum “ Oke Mama akan cerita saat Mama masih kecil ya Tika, ada hubungannya
dengan sungai itu dan kamu harus mendengar cerita Mama ya sayang “
“
Iya Ma.. Tika dengerin “ jawab Tika dan mulai menyimak cerita Mamanya. Mamanya
pun memulai cerita masa kecilnya “ Pada zaman dahulu … “
“
Sabar Ma, Tika mau minum dulu “ sela Tika langsung menyambar minum yang ada di
mobil mereka, Mamanya kembali mendengus melihat tingkah Tika“ Iya minum dulu
deh Tika “. Mamanya mulai bercerita “ Saat itu Mama masih duduk di bangku
kelas 1 SD, suasana kampung yang masih tenang dan alam pun memberi kesejukan
bagi siapapun yang mengunjungi desa kami. Embun pagi yang menyambut saat Mama
berangkat ke sekolah dan terik matahari di siang hari yang cukup hangat saat
Mama pulang sekolah. Saat sore hari pun tiba Mama bersama teman-teman masa
kecil Mama pergi ke sungai mencari ikan atau hanya sekedar berenang di sungai.
Ya saat itu sungai di desa kami masih sangat jernih sehingga masih layak untuk
kami yang ingin berenang maupun mencuci baju “
“ Seru banget dong Ma “ Cerca Tika yang
langsung memotong cerita Mamanya, Mamanya mendengus kembali “ Jangan di potong
dong ceritanya, Mama jadi males cerita kalo gitu Tik “
“ Iya Ma, Maafin Tika, lanjuti lagi
ceritanya dong Ma “ seru Tika, dan langsung berusaha memeluk Mamanya dari
belakang, Mamanya hanya tertawa dan mulai melanjutkan ceritanya kembali “ Waktu
itu memang sungguh masa kecil yang membahagia kan waktu itu, walaupun hanya
berenang di anak sungai yang lebarnya 7 meter dan dalamnya 1 meter karena saat itu di
kampung kami tidak ada yang memiliki kolam renang yang di sewakan seperti
sekarang. Saat itu juga jarang sekali anak-anak yang masih duduk di bangku SD
bisa menggunakan sepeda motor, hampir semuanya hanya menggunakan sepeda roda
dua dan suasana saat itu benar-benar mendamaikan hati siapapun. Seiring
berjalannya waktu dan sedikit demi sedikit pula para penguasa mulai berdatangan
ke kampung kami. Mereka memiliki strategi yang cukup misterius sehingga
masyarakat yang memandang mereka sebagai tempat pencetak uang untuk memenuhi
kehidupan mereka sehari-hari. Mereka mulai membeli lahan-lahan warga kampung
itu, mulai dari harga 15 juta hingga Milyaran Rupiah. Siapa yang tidak terguir
dengan nominal uang itu Tika ? Mama pun juga mau. Namun sayang mengapa warga di
kampung saat itu juga tidak sadar,
dengan apa yang mereka lakukan. Dan para penguasa itu mulai membuka tambang
batu bara dari tanah warga yang sudah mereka beli dan pada akhirnya
perlahan-lahan limbah dari tambang tersebut di buang ke sungai. Sungai kami
yang dulu tempat kami berenang dan sebagainya itu telah kotor, keruh, dan
bahkan menimbulkan bau yang luar biasa. Tidak hanya karena limbah tambang,
namun masyarakat sering sekali membuang limbah dari rumah masing-masing ke
sungai. Lihat saja tidak hanya keruh namun sungai itu sekarang di hiasi
sampah-sampah masyarakat “
“ Oh jadi Mama dulu waktu kecil sering
berenang di sungai yang tadi kita lewati itu ya Ma ? “ tanya Tika kembali yang
semakin penasaran dengan cerita Mamanya, mamanya pun melanjutkan kembali
ceritanya “ iya Tika, semua sekarang hanya jadi cerita belaka. Bahkan Adik-adik
Mama pun tidak pernah menikmati betapa segarnya air sungai tersebut. Sekarang
kita hanya bisa memandang sungai itu dengan tatapan yang sangat menjijikan. Dan
para penguasa itu ? hanya meninggalkan limbah, merusak jalan raya, dan
meninggalkan debu untuk desa kami, dan ketika sudah mendapatkan keuntungan yang luar biasa dari tambang batu bara
itu mereka pergi dari kampung kami. masyarakat pun tetap dan tidak sadar dan
sering membuang sampah ke sungai tadi padahal kan sudah ada TPA tidak seperti
dulu sampah-sampah warga di bakar masing-masing. “
“ Wah kurang ajar banget penguasa itu
ya Ma “ Sela Tika yang mulai sedikit emosi setelah mendengar cerita Mamanya,
Mamanya langsung menjawab “ Bukan begitu sayang, mereka juga menciptakan
lapangan perkerjaan “. Namun Tika tetap berteguh dan terus menyela Mamanya “ tapi
Ma, akibatnya juga luar biasa Ma “ .
Setelah mendengar tanggapan Tika, Mamanya kembali tersenyum dan kemabli
bertanya “ Iya Mama tau mau denger lagi ga Tika ? “ .
“ Iya Ma, lagi-lagi dong ceritanya “
ucap Tika, Mamanya pun kembali bercerita
“ Akhirnya semua sawah dan perkebunan
warga pun ludes habis menjadi milik ke para penguasa itu, demi kepuasan
sementara. Padahal desa kami terkenal sebagai penghasil beras yang sangat
banyak dan ruang penggilingan padi terbesar di negri kami ada di desa kami.
Namun bagaimana selanjutnya ? apakah batu bara akan tetap hadir sepanjang masa
? saat sumber daya alam itu habis bagaimana lagi kabar generasi muda kita ? Dan
sungguh betapa malunya kita karena para petani sudah mulai berhenti menanam
padi dan akhirnya kita mengimport beras dari negri orang. Mama sudah
membayangkan perlahan-lahan desa kami pasti akan menjadi lautan kolam bekas
tambang batu bara akibat keegoisan para penguasa itu. Dan akhirnya memang
terjadi kan ? “
“ Iya ya Ma.. kasihan Nenek sama Kakek
sudah sepi, pemandangannya juga Cuma kolam tambang batu bara “ Tanggap Tika,
Mamanya pun menasihati Tika “Nah itu dia sayang, kamu harus banyak belajar
supaya bisa mengembangkan daerah kita ya “
“ Oke Ma, tapi Papa kok tidak komentar
tentang sungai itu Pa ? “ Ucap kembali Tikadengan penuh penasaran.
“ Emangnya Papa harus ngapain Tika ? “
Tanya Papanya yang juga sibuk menyetir mobil saat itu, dan Mamanya langsung
menjawab “ Soalnya Papa kamu itu cucunya direktur tambang batu bara Tika “.
Tika hanya tertawa mendengar tanggapan dari Mamanya. Tika pun kembali bertanya
“ Emangnya benar ya Pa yang di katakan Mama ?”. Papanya mengangguk, dan
langsung menjawab “ Apapun yang terjadi dulu itu adalah masa yang telah
berlalu, sekarang tugas kita bagaimana cara menyelesaikan masalah yang ada di
sekitar kita bukan menyalahkan masalah “. Akhirnya Mama dan Tika hanya
mengangguk yang menandakan setuju dengan pendapat Papa
“ Sudah sampai “ Seru Papa Tika yang
cukup mengagetkan Mama Tika dan tika sendiri, mereka langsung tertawa dan
mengomel. “ Tau gini mendingan kita cerita dari pertama mulai jalan sampai selesai
perjalanan ya Pa, Ma “ ucap Tika. “ Udah nanti aja komentarnya Tika lihat Kakek
dan Nenek sudah menanti kita “ seru Papa Tika dan mereka kembali tertawa.
“ Kakek, Nenek !!! “ seru Tika langsung
berlari kea rah mereka dan memeluk mereka
“ Loh, Kakak kamu tidak ikut Tika ? “
Tanya Kakek
“ Kak Aldo kan sekarang kuliah di Jogja
Kek, dia liburnya Cuma sebentar jadi gak ikut kita, katanya dia minta dikirimi
durian, sanggar cempedak, sama tempoyak Kek “ Ucap Tika panjang lebar. Dan
tiba-tiba terdengar teriakan minta tolong dari arah mobil “ Tika nanti dulu
ceritanya ! bantuin Mama sama Papa mengangkat koper dari mobil “ seru Mama
sambil membawa barang bawaan mereka yang lumayan banyak pada saat itu.
“ Iya Ma “ jawab Tika langsung membantu
Papa dan Mamanya
“ Tika habis ini kamu mandi istirahat
1-2 jam setelah itu kita pergi ke jantur Inar
disana sungainya masih jernih dan segar” Kata Papa yang saat itu sedang di
teras rumah sambil menyantap jabau goreng
buatan Nenek Tika
“ Sip Pa, kalo ini Tika semangat “
Jawab Tika langsung hormat pada Papanya seperti hormat pada bendera merah
putih. Kakek,Nenek, dan Mamanya hanya tertawa melihat tingkah laku tika yang
terkadang susah di tebak.
·
Jabau = Singkong
·
Jantur = Wisata Air Terjun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar