Senin, 13 Oktober 2014

-Cerpen-



Berlibur Ke Rumah Nenek
Karya : Adjie Valeria Christiasih
Hari ini Tika beserta Mama dan Papanya pergi berlibur ke rumah Orang Tua dari Mama Tika. Perjalanan yang cukup jauh karena rumah Kakek dan Nenek Tika yang terletak di pedalaman Kalimantan Timur. Walaupun sebenarnya sekarang bisa menggunakan pesawat dan kapal namun mereka lebih memilih menggunakan mobil sebagai sarana mereka agar sampai ke tempat tujuan.
“ Ma, Pa bentar lagi kita udah sampai ya ? “ tanya Tika, Mamanya langsung tersenyum dan Papanya menjawab “ masih 3 jam lagi sayang “
“ Kenapa lama sekali, padahal aku sangat penasaran “ gerutu Tika dan kemudian memasang muka cemberut, Papa dan Mamanya hanya tertawa melihat tingkah laku Tika.
“ Loh yang ngusulin tahun ini kita luburan ke rumah Kakek Nenek siapa ? “ Sambung Papanya, dan Tika pun hanya terdiam dan menggerutu sendiri. Waktu terus berjalan tak terasa sudah mulai mendekati tempat yang di tuju.
          Selama perjalanan beberapa jembatan yang lumayan besar dan panjang telah mereka telusuri namun Tika sedikit penasaran tentang air sungai itu.  “ Mama, mengapa sungai itu sangat keruh ma ? “ tanya Tika pada Mamanya, dengan sejenak Mamanya menjadi teringat hal yang telah lalu dan Mamanya pun menjawab “ Itu akibat ulah  manusia sendiri Tika “. Namun Tika masih tetap tidak mengerti dan tidak puas dengan jawaban Mamanya ia pun tetap bertanya kembali “ Bukannya Mama pernah cerita kalau dulu saat Mama masih kecil sering berenang di sungai ? “. Dengan penuh kesabaran Mamanya tersenyum “ Oke Mama akan cerita saat Mama masih kecil ya Tika, ada hubungannya dengan sungai itu dan kamu harus mendengar cerita Mama ya sayang “
“ Iya Ma.. Tika dengerin “ jawab Tika dan mulai menyimak cerita Mamanya. Mamanya pun memulai cerita masa kecilnya “ Pada zaman dahulu … “
“ Sabar Ma, Tika mau minum dulu “ sela Tika langsung menyambar minum yang ada di mobil mereka, Mamanya kembali mendengus melihat tingkah Tika“ Iya minum dulu deh Tika “. Mamanya mulai bercerita “ Saat itu Mama masih duduk di bangku kelas 1 SD, suasana kampung yang masih tenang dan alam pun memberi kesejukan bagi siapapun yang mengunjungi desa kami. Embun pagi yang menyambut saat Mama berangkat ke sekolah dan terik matahari di siang hari yang cukup hangat saat Mama pulang sekolah. Saat sore hari pun tiba Mama bersama teman-teman masa kecil Mama pergi ke sungai mencari ikan atau hanya sekedar berenang di sungai. Ya saat itu sungai di desa kami masih sangat jernih sehingga masih layak untuk kami yang ingin berenang maupun mencuci baju “
“ Seru banget dong Ma “ Cerca Tika yang langsung memotong cerita Mamanya, Mamanya mendengus kembali “ Jangan di potong dong ceritanya, Mama jadi males cerita kalo gitu Tik “
          “ Iya Ma, Maafin Tika, lanjuti lagi ceritanya dong Ma “ seru Tika, dan langsung berusaha memeluk Mamanya dari belakang, Mamanya hanya tertawa dan mulai melanjutkan ceritanya kembali “ Waktu itu memang sungguh masa kecil yang membahagia kan waktu itu, walaupun hanya berenang di anak sungai yang lebarnya 7  meter dan dalamnya 1 meter karena saat itu di kampung kami tidak ada yang memiliki kolam renang yang di sewakan seperti sekarang. Saat itu juga jarang sekali anak-anak yang masih duduk di bangku SD bisa menggunakan sepeda motor, hampir semuanya hanya menggunakan sepeda roda dua dan suasana saat itu benar-benar mendamaikan hati siapapun. Seiring berjalannya waktu dan sedikit demi sedikit pula para penguasa mulai berdatangan ke kampung kami. Mereka memiliki strategi yang cukup misterius sehingga masyarakat yang memandang mereka sebagai tempat pencetak uang untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari. Mereka mulai membeli lahan-lahan warga kampung itu, mulai dari harga 15 juta hingga Milyaran Rupiah. Siapa yang tidak terguir dengan nominal uang itu Tika ? Mama pun juga mau. Namun sayang mengapa warga di kampung  saat itu juga tidak sadar, dengan apa yang mereka lakukan. Dan para penguasa itu mulai membuka tambang batu bara dari tanah warga yang sudah mereka beli dan pada akhirnya perlahan-lahan limbah dari tambang tersebut di buang ke sungai. Sungai kami yang dulu tempat kami berenang dan sebagainya itu telah kotor, keruh, dan bahkan menimbulkan bau yang luar biasa. Tidak hanya karena limbah tambang, namun masyarakat sering sekali membuang limbah dari rumah masing-masing ke sungai. Lihat saja tidak hanya keruh namun sungai itu sekarang di hiasi sampah-sampah masyarakat “
“ Oh jadi Mama dulu waktu kecil sering berenang di sungai yang tadi kita lewati itu ya Ma ? “ tanya Tika kembali yang semakin penasaran dengan cerita Mamanya, mamanya pun melanjutkan kembali ceritanya “ iya Tika, semua sekarang hanya jadi cerita belaka. Bahkan Adik-adik Mama pun tidak pernah menikmati betapa segarnya air sungai tersebut. Sekarang kita hanya bisa memandang sungai itu dengan tatapan yang sangat menjijikan. Dan para penguasa itu ? hanya meninggalkan limbah, merusak jalan raya, dan meninggalkan debu untuk desa kami, dan ketika sudah mendapatkan  keuntungan yang luar biasa dari tambang batu bara itu mereka pergi dari kampung kami. masyarakat pun tetap dan tidak sadar dan sering membuang sampah ke sungai tadi padahal kan sudah ada TPA tidak seperti dulu sampah-sampah warga di bakar masing-masing. “
“ Wah kurang ajar banget penguasa itu ya Ma “ Sela Tika yang mulai sedikit emosi setelah mendengar cerita Mamanya, Mamanya langsung menjawab “ Bukan begitu sayang, mereka juga menciptakan lapangan perkerjaan “. Namun Tika tetap berteguh dan terus menyela Mamanya “ tapi Ma, akibatnya juga luar biasa Ma “ .  Setelah mendengar tanggapan Tika, Mamanya kembali tersenyum dan kemabli bertanya “ Iya Mama tau mau denger lagi ga Tika ? “ .
“ Iya Ma, lagi-lagi dong ceritanya “ ucap Tika, Mamanya pun kembali bercerita
“ Akhirnya semua sawah dan perkebunan warga pun ludes habis menjadi milik ke para penguasa itu, demi kepuasan sementara. Padahal desa kami terkenal sebagai penghasil beras yang sangat banyak dan ruang penggilingan padi terbesar di negri kami ada di desa kami. Namun bagaimana selanjutnya ? apakah batu bara akan tetap hadir sepanjang masa ? saat sumber daya alam itu habis bagaimana lagi kabar generasi muda kita ? Dan sungguh betapa malunya kita karena para petani sudah mulai berhenti menanam padi dan akhirnya kita mengimport beras dari negri orang. Mama sudah membayangkan perlahan-lahan desa kami pasti akan menjadi lautan kolam bekas tambang batu bara akibat keegoisan para penguasa itu. Dan akhirnya memang terjadi kan ? “
“ Iya ya Ma.. kasihan Nenek sama Kakek sudah sepi, pemandangannya juga Cuma kolam tambang batu bara “ Tanggap Tika, Mamanya pun menasihati Tika “Nah itu dia sayang, kamu harus banyak belajar supaya bisa mengembangkan daerah kita ya “
“ Oke Ma, tapi Papa kok tidak komentar tentang sungai itu Pa ? “ Ucap kembali Tikadengan penuh penasaran.
“ Emangnya Papa harus ngapain Tika ? “ Tanya Papanya yang juga sibuk menyetir mobil saat itu, dan Mamanya langsung menjawab “ Soalnya Papa kamu itu cucunya direktur tambang batu bara Tika “. Tika hanya tertawa mendengar tanggapan dari Mamanya. Tika pun kembali bertanya “ Emangnya benar ya Pa yang di katakan Mama ?”. Papanya mengangguk, dan langsung menjawab “ Apapun yang terjadi dulu itu adalah masa yang telah berlalu, sekarang tugas kita bagaimana cara menyelesaikan masalah yang ada di sekitar kita bukan menyalahkan masalah “. Akhirnya Mama dan Tika hanya mengangguk yang menandakan setuju dengan pendapat Papa
“ Sudah sampai “ Seru Papa Tika yang cukup mengagetkan Mama Tika dan tika sendiri, mereka langsung tertawa dan mengomel. “ Tau gini mendingan kita cerita dari pertama mulai jalan sampai selesai perjalanan ya Pa, Ma “ ucap Tika. “ Udah nanti aja komentarnya Tika lihat Kakek dan Nenek sudah menanti kita “ seru Papa Tika dan mereka kembali tertawa.
“ Kakek, Nenek !!! “ seru Tika langsung berlari kea rah mereka dan memeluk mereka
“ Loh, Kakak kamu tidak ikut Tika ? “ Tanya Kakek
“ Kak Aldo kan sekarang kuliah di Jogja Kek, dia liburnya Cuma sebentar jadi gak ikut kita, katanya dia minta dikirimi durian, sanggar cempedak, sama tempoyak Kek “ Ucap Tika panjang lebar. Dan tiba-tiba terdengar teriakan minta tolong dari arah mobil “ Tika nanti dulu ceritanya ! bantuin Mama sama Papa mengangkat koper dari mobil “ seru Mama sambil membawa barang bawaan mereka yang lumayan banyak pada saat itu.
“ Iya Ma “ jawab Tika langsung membantu Papa dan Mamanya
“ Tika habis ini kamu mandi istirahat 1-2 jam setelah itu kita pergi ke jantur Inar disana sungainya masih jernih dan segar” Kata Papa yang saat itu sedang di teras rumah sambil menyantap jabau goreng buatan Nenek Tika
“ Sip Pa, kalo ini Tika semangat “ Jawab Tika langsung hormat pada Papanya seperti hormat pada bendera merah putih. Kakek,Nenek, dan Mamanya hanya tertawa melihat tingkah laku tika yang terkadang susah di tebak.

·         Jabau = Singkong
·         Jantur = Wisata Air Terjun
         


Berlibur Ke Rumah Nenek
Karya : Adjie Valeria Christiasih
Hari ini Tika beserta Mama dan Papanya pergi berlibur ke rumah Orang Tua dari Mama Tika. Perjalanan yang cukup jauh karena rumah Kakek dan Nenek Tika yang terletak di pedalaman Kalimantan Timur. Walaupun sebenarnya sekarang bisa menggunakan pesawat dan kapal namun mereka lebih memilih menggunakan mobil sebagai sarana mereka agar sampai ke tempat tujuan.
“ Ma, Pa bentar lagi kita udah sampai ya ? “ tanya Tika, Mamanya langsung tersenyum dan Papanya menjawab “ masih 3 jam lagi sayang “
“ Kenapa lama sekali, padahal aku sangat penasaran “ gerutu Tika dan kemudian memasang muka cemberut, Papa dan Mamanya hanya tertawa melihat tingkah laku Tika.
“ Loh yang ngusulin tahun ini kita luburan ke rumah Kakek Nenek siapa ? “ Sambung Papanya, dan Tika pun hanya terdiam dan menggerutu sendiri. Waktu terus berjalan tak terasa sudah mulai mendekati tempat yang di tuju.
          Selama perjalanan beberapa jembatan yang lumayan besar dan panjang telah mereka telusuri namun Tika sedikit penasaran tentang air sungai itu.  “ Mama, mengapa sungai itu sangat keruh ma ? “ tanya Tika pada Mamanya, dengan sejenak Mamanya menjadi teringat hal yang telah lalu dan Mamanya pun menjawab “ Itu akibat ulah  manusia sendiri Tika “. Namun Tika masih tetap tidak mengerti dan tidak puas dengan jawaban Mamanya ia pun tetap bertanya kembali “ Bukannya Mama pernah cerita kalau dulu saat Mama masih kecil sering berenang di sungai ? “. Dengan penuh kesabaran Mamanya tersenyum “ Oke Mama akan cerita saat Mama masih kecil ya Tika, ada hubungannya dengan sungai itu dan kamu harus mendengar cerita Mama ya sayang “
“ Iya Ma.. Tika dengerin “ jawab Tika dan mulai menyimak cerita Mamanya. Mamanya pun memulai cerita masa kecilnya “ Pada zaman dahulu … “
“ Sabar Ma, Tika mau minum dulu “ sela Tika langsung menyambar minum yang ada di mobil mereka, Mamanya kembali mendengus melihat tingkah Tika“ Iya minum dulu deh Tika “. Mamanya mulai bercerita “ Saat itu Mama masih duduk di bangku kelas 1 SD, suasana kampung yang masih tenang dan alam pun memberi kesejukan bagi siapapun yang mengunjungi desa kami. Embun pagi yang menyambut saat Mama berangkat ke sekolah dan terik matahari di siang hari yang cukup hangat saat Mama pulang sekolah. Saat sore hari pun tiba Mama bersama teman-teman masa kecil Mama pergi ke sungai mencari ikan atau hanya sekedar berenang di sungai. Ya saat itu sungai di desa kami masih sangat jernih sehingga masih layak untuk kami yang ingin berenang maupun mencuci baju “
“ Seru banget dong Ma “ Cerca Tika yang langsung memotong cerita Mamanya, Mamanya mendengus kembali “ Jangan di potong dong ceritanya, Mama jadi males cerita kalo gitu Tik “
          “ Iya Ma, Maafin Tika, lanjuti lagi ceritanya dong Ma “ seru Tika, dan langsung berusaha memeluk Mamanya dari belakang, Mamanya hanya tertawa dan mulai melanjutkan ceritanya kembali “ Waktu itu memang sungguh masa kecil yang membahagia kan waktu itu, walaupun hanya berenang di anak sungai yang lebarnya 7  meter dan dalamnya 1 meter karena saat itu di kampung kami tidak ada yang memiliki kolam renang yang di sewakan seperti sekarang. Saat itu juga jarang sekali anak-anak yang masih duduk di bangku SD bisa menggunakan sepeda motor, hampir semuanya hanya menggunakan sepeda roda dua dan suasana saat itu benar-benar mendamaikan hati siapapun. Seiring berjalannya waktu dan sedikit demi sedikit pula para penguasa mulai berdatangan ke kampung kami. Mereka memiliki strategi yang cukup misterius sehingga masyarakat yang memandang mereka sebagai tempat pencetak uang untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari. Mereka mulai membeli lahan-lahan warga kampung itu, mulai dari harga 15 juta hingga Milyaran Rupiah. Siapa yang tidak terguir dengan nominal uang itu Tika ? Mama pun juga mau. Namun sayang mengapa warga di kampung  saat itu juga tidak sadar, dengan apa yang mereka lakukan. Dan para penguasa itu mulai membuka tambang batu bara dari tanah warga yang sudah mereka beli dan pada akhirnya perlahan-lahan limbah dari tambang tersebut di buang ke sungai. Sungai kami yang dulu tempat kami berenang dan sebagainya itu telah kotor, keruh, dan bahkan menimbulkan bau yang luar biasa. Tidak hanya karena limbah tambang, namun masyarakat sering sekali membuang limbah dari rumah masing-masing ke sungai. Lihat saja tidak hanya keruh namun sungai itu sekarang di hiasi sampah-sampah masyarakat “
“ Oh jadi Mama dulu waktu kecil sering berenang di sungai yang tadi kita lewati itu ya Ma ? “ tanya Tika kembali yang semakin penasaran dengan cerita Mamanya, mamanya pun melanjutkan kembali ceritanya “ iya Tika, semua sekarang hanya jadi cerita belaka. Bahkan Adik-adik Mama pun tidak pernah menikmati betapa segarnya air sungai tersebut. Sekarang kita hanya bisa memandang sungai itu dengan tatapan yang sangat menjijikan. Dan para penguasa itu ? hanya meninggalkan limbah, merusak jalan raya, dan meninggalkan debu untuk desa kami, dan ketika sudah mendapatkan  keuntungan yang luar biasa dari tambang batu bara itu mereka pergi dari kampung kami. masyarakat pun tetap dan tidak sadar dan sering membuang sampah ke sungai tadi padahal kan sudah ada TPA tidak seperti dulu sampah-sampah warga di bakar masing-masing. “
“ Wah kurang ajar banget penguasa itu ya Ma “ Sela Tika yang mulai sedikit emosi setelah mendengar cerita Mamanya, Mamanya langsung menjawab “ Bukan begitu sayang, mereka juga menciptakan lapangan perkerjaan “. Namun Tika tetap berteguh dan terus menyela Mamanya “ tapi Ma, akibatnya juga luar biasa Ma “ .  Setelah mendengar tanggapan Tika, Mamanya kembali tersenyum dan kemabli bertanya “ Iya Mama tau mau denger lagi ga Tika ? “ .
“ Iya Ma, lagi-lagi dong ceritanya “ ucap Tika, Mamanya pun kembali bercerita
“ Akhirnya semua sawah dan perkebunan warga pun ludes habis menjadi milik ke para penguasa itu, demi kepuasan sementara. Padahal desa kami terkenal sebagai penghasil beras yang sangat banyak dan ruang penggilingan padi terbesar di negri kami ada di desa kami. Namun bagaimana selanjutnya ? apakah batu bara akan tetap hadir sepanjang masa ? saat sumber daya alam itu habis bagaimana lagi kabar generasi muda kita ? Dan sungguh betapa malunya kita karena para petani sudah mulai berhenti menanam padi dan akhirnya kita mengimport beras dari negri orang. Mama sudah membayangkan perlahan-lahan desa kami pasti akan menjadi lautan kolam bekas tambang batu bara akibat keegoisan para penguasa itu. Dan akhirnya memang terjadi kan ? “
“ Iya ya Ma.. kasihan Nenek sama Kakek sudah sepi, pemandangannya juga Cuma kolam tambang batu bara “ Tanggap Tika, Mamanya pun menasihati Tika “Nah itu dia sayang, kamu harus banyak belajar supaya bisa mengembangkan daerah kita ya “
“ Oke Ma, tapi Papa kok tidak komentar tentang sungai itu Pa ? “ Ucap kembali Tikadengan penuh penasaran.
“ Emangnya Papa harus ngapain Tika ? “ Tanya Papanya yang juga sibuk menyetir mobil saat itu, dan Mamanya langsung menjawab “ Soalnya Papa kamu itu cucunya direktur tambang batu bara Tika “. Tika hanya tertawa mendengar tanggapan dari Mamanya. Tika pun kembali bertanya “ Emangnya benar ya Pa yang di katakan Mama ?”. Papanya mengangguk, dan langsung menjawab “ Apapun yang terjadi dulu itu adalah masa yang telah berlalu, sekarang tugas kita bagaimana cara menyelesaikan masalah yang ada di sekitar kita bukan menyalahkan masalah “. Akhirnya Mama dan Tika hanya mengangguk yang menandakan setuju dengan pendapat Papa
“ Sudah sampai “ Seru Papa Tika yang cukup mengagetkan Mama Tika dan tika sendiri, mereka langsung tertawa dan mengomel. “ Tau gini mendingan kita cerita dari pertama mulai jalan sampai selesai perjalanan ya Pa, Ma “ ucap Tika. “ Udah nanti aja komentarnya Tika lihat Kakek dan Nenek sudah menanti kita “ seru Papa Tika dan mereka kembali tertawa.
“ Kakek, Nenek !!! “ seru Tika langsung berlari kea rah mereka dan memeluk mereka
“ Loh, Kakak kamu tidak ikut Tika ? “ Tanya Kakek
“ Kak Aldo kan sekarang kuliah di Jogja Kek, dia liburnya Cuma sebentar jadi gak ikut kita, katanya dia minta dikirimi durian, sanggar cempedak, sama tempoyak Kek “ Ucap Tika panjang lebar. Dan tiba-tiba terdengar teriakan minta tolong dari arah mobil “ Tika nanti dulu ceritanya ! bantuin Mama sama Papa mengangkat koper dari mobil “ seru Mama sambil membawa barang bawaan mereka yang lumayan banyak pada saat itu.
“ Iya Ma “ jawab Tika langsung membantu Papa dan Mamanya
“ Tika habis ini kamu mandi istirahat 1-2 jam setelah itu kita pergi ke jantur Inar disana sungainya masih jernih dan segar” Kata Papa yang saat itu sedang di teras rumah sambil menyantap jabau goreng buatan Nenek Tika
“ Sip Pa, kalo ini Tika semangat “ Jawab Tika langsung hormat pada Papanya seperti hormat pada bendera merah putih. Kakek,Nenek, dan Mamanya hanya tertawa melihat tingkah laku tika yang terkadang susah di tebak.

·         Jabau = Singkong
·         Jantur = Wisata Air Terjun
         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar